Sabtu, 11 Oktober 2008

Pendidikan Karakter

Bangsa ini sepertinya tak putus dirundung malang. Indonesia yang sudah 62 tahun merdeka masih saja menghadapi ujian berat yang harus dilalui, yaitu terjadinya krisis multi dimensi yang berkepanjangan. Negeri yang berpenduduk lebih 200 juta ini masih kelihatan suram untuk bangkit dari keterpurukan ekonomi. Sehingga banyak orang mempertanyakan, benarkah kita sudah merdeka?
Krisis yang terjadi pada hampir di semua lini kehidupan ini hemat saya mengakar pada demoralisasi dan despiritualisasi bangsa. Lihatlah meningkatnya kriminalitas di sekitar kita, penculikan, perampokan, pembunuhan dan perkosaan, yang dilakukan oleh orang-orang dewasa dan bahkan remaja yang masih berstatus pelajar. Ironis bukan. Sementara itu korupsi pun jalan terus, tak pernah jera menguras harta Negara.Bukankah sebuah bangsa akan hancur apabila terjadi demoralisasi pada masyarakatnya. Banyak pakar dan filosuf mengatakan bahwa faktor moral/akhlak adalah faktor utama untuk membangun sebuah bangsa yang tertib,aman dan sejahtera.
“Semua masyarakat, tentu saja, harus melakukan sesuatu yang lebih dari sekedar untuk bertahan. Mereka juga harus tumbuh dalam memahami apa artinya menjadi sebuah komunitas manusia, dalam memberikaan kesempatan kepada setiap anggotanya untuk tumbuh secara utuh, dan dalam kapasitasnya untuk menangani problema etika yang timbul dari perubahan teknologi dan sosial lainnya. Lagi pula, mereka harus belajar untuk berfungsi sebagai bagian dari komunitas dunia yang kompleks, di mana untuk terwujudnya perdamaian dunia dan keadilan membutuhkan suatu hubungan kerjasama yang kuat. Tetapi apapun tugasnya; untuk bertahan atau tumbuh kembang setiap masyarakat, mau tidak mau bergantung kepada keberhasilannya dalam membentuk kualitas karakter masyarakatnya.”(Kevein Ryan & Thomas Lickona, dalam Ratna Megawangi, Pendidikan Karakter, 2004)
Dari kutipan di atas tampak bahwa sejatinya setiap warga negara harus dapat tumbuh kembang sesuai dengan potensi yang dimilikinya serta sadar sebagai warga negara (Indonesia) dan harus mampu menangani masalah-maslah moral yang muncul sebagai akibat terjadinya perubahan sosial/modernisasi dan selanjutnya harus belajar bekerjasama dan berbuat seuatu yang bermanfaat bagi sesama sebagai warga dunia. Dan untuk mencapai perdamaian dunia dan keadilan sangat tergantung kepada pembentukan karakter masyarakatnya.
Pengembangan potensi setiap orang dan pembentukan karakter, tidak lain harus melalui pendidikan baik formal maupun non-formal. Oleh sebab itu kewajiban utama orang tua adalah menanamkan nilai-nilai moral kepada anak-anaknya sejak dini. Nilai-nilai moral tersebut akan membentuk karakter yang akan menjadi fondasi bagi tatanan masyarakat yang beradab.
Hubungan antra aspek moral dengan kemajuan bangsa juga dikemukan oleh Thomas Lickona seorang professor pendidikan dari Cortland University mengungkapkn bahwa ada sepuluh tanda-tanda jaman yng harus diwaspadai karena jika tanda-tanda ini sudah ada, maka itu berarti bahwa sebuah bangsa sudah menuju jurang kehancuran. Tanda-tanda dimaksud adalah : (1)meningkatnya kekerasan dikalangan remaja, (2) penggunaan bahasa dan kata-kata yang memburuk, (3) pengaruh peer group yang kuat dalam tindak kekerasan, (4) meningkatnya perilaku merusak diri, seperti penggunaan narkoba, alkohol dan seks bebas, (5) semakin kaburnya pedoman moral baik dan buruk, (6) menurunnya etos kerja, semakin rendahnya rasa hormat kepada orang tua dan guru, (8) rendahnya rasa tanggung jawab individu dan warga negara, (9) membudayanya ketidak jujuran, dan (10) adanya rasa saling curiga dan kebencian diantara sesama (ibid,hlm.8).
Jika kita mencermati fenomena yang terjadi dalam masyarakat dewasa ini tampaknya tanda-tanda tersebut sudah semakin menggejala dinegeri ini.


Karakter

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, (hlm.189) karakter dimaknai sebagai sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain; watak, kepribadian. Orang yang berkarater biasanya dapat membedakan hal yang baik dan yang buruk dengan tegas. “Dia punya karakter”, demikian kata orang dan konotasi ungkapan itu tentu saja adalah positif.
Orang yag punya karakter atau kepribadian yang mantap biasanya dihormati dan disegani orang lain, karena dia melihat dan memandang setiap kejadian dalam kehidupan ini dengan kaca mata yang penuh dengan keindahan dan optimisme. Sedangkan orang yang tidak punya karakter melihat lingkungannya/dunia atau orang lain melalui kaca mata hitam, dia cendrung melihat kekurangan atau segi negatifnya. Sehingga yang muncul bukan persaudaraan atau menimbulkan kerjasama melainkan permusuhan atau agresi.
Orang yang berkarkter juga ditandai dengan adanya konsisteni antara apa yang diucapkan dengan apa yang diperbuatnya. Kebiasaan (habit) seseorang pada gilirannya juga kan membentuk kakarater seseorang. Dan biasanya orang yang berkepribdian mantap atau akhlak mulia cendrung memiliki sifat low-profile.

Mulai dari rumah tangga
Kembali kepada pendidikan karakter atau watak, pribadi. Sesungguhnya anak tidak dilahirkan jahat, bodoh, jelek atau agresif. Jadi kalau begitu orang tualah yang membuat anak jahat, nakal, tau bodoh. Bisa ya, bisa tidak. Karena orang tua adalah guru pertama dan utama bagi setiap anak. Tergantung kepda pola asuh orng tua. Pola asuh orang tua akan memberikan kesan yang sangat berpengaruh untuk membentuk karakter atau kepribadian anak ketika ia dewasa kelak. Pola asuh orang tua atau cara mendidik anak akan tercermin dalam cara anak menyikapi orang tuanya. Dengan kata lain bila orang tua mendidik anak dengan penuh kasih sayang maka anak juga akan menyayangi orang tuanya dan orang lain. Dalam hatinya tumbuh rasa cinta. Sebaliknya bila orang tua mengasuh anak dengan kasar/otoriter dan cemoohan, maka dalam dirinya akan tumbuh permusuhan, dia merasa rendah diri dan tidak percaya diri dan ingin melawan/berkelahi. Misalnya orang tua yang sering mengucapkan kata-kata kasar saat anaknya melakukan kesalahan, seperti kata tolol, nakal, malas, bego dsb. Kata-kata tersebut akan menjadi memori sepanjang hidupnya.
Rumah sejatinya adalh tempat mnyamaikan nilai-nilai yang bersumber dari ajaran agama dan budaya, seperti kejujuran, kasih sayang, persahabatan, saling menghargai dan menghormati, kerjasama, kesabaran, toleransi dsb. Bila nilai-nilai tersebut telah tertanam dalam hati sanubari anak, maka dia akan memiliki karakter yang baik dan sukses dalam mengharungi kehidupannya kelak.

Pencerahan di sekolah
Sekolah seharusnya mendidik anak untuk mengenal diri sendiri, menyadari siapa dirinya, sadar akan potensinya, dan sadar akan keunggulan dan kelemahannya. Selain dari pada itu anak-anak juga harus msmahami orang lain disekitanya, ia memerlukaan kerjasama dengan mereka karena sesungguhnya ia tidak bisa hidup sendiri di dunia ini. Oleh sebab itulah pendidikan bukan hanya meningkatkan kecerdasan otak, tetapi sekaligus juga kecerdasan emosional dan spiritual , sehingga tumbuh manusia-manusia yang cerdas intektual, emosional dan spiritual dengan demikian akan tumbuh manusia yang punya karakter/watak.
Meskipun pentingnya kecerdasan emosional dan spiritual sudah mulai disadari, namun dalam proses pendidikan kita masih mengutamakan keunggulan kognitif atau intelektual. Sehingga dinegeri ini tumbuh banyak orang-orang berpendidikan tapi gagal dalam hidup karena tidak mampu mengendalikan diri.
Tampaknya guru-guru di sekolah tidak cukup sabar untuk mengembangkan emosi dan kemampuan peserta didik memahami orang lain. Dengan kata lain pendidikan nilai, kepribadian atau watak atau afektif kurang diperhatikan atau malah tidak dikembangkan di sekolah-sekolah kita. Artinya tujuan pendidikan nasional, yaitu membentuk manusia Indonesia seutuhnya yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, cerdas, trampil, berbudi pekerti luhur, mandiri dst masih diabaikan atau dicuekin. Akibatnya anak-anak suka tawuran /berkelahi (malah bangga jika bisa melukai lawannya, sering bolos, candu narkoba, suka nonton film porno, tidak santun kepada orng tua ataupun guru dsb.
Akhirnya banyak orang yang mencap pendidikan kita carut marut atau amburadul.

Bagaimana di masyarakat
Idealnya rumah tangga, sekolah dan masyarakat harus kerjasama dalam membimbing serta membina anak-anak kearah yang lebih baik, yaitu tumbuh sebagai manusia dewasa, mengerti dirinya sendiri dan orang lain, serta mampu memechkan persoalan yang dihadapi.
Tetapi dlam knyataan, kondisi masyrakt yang ditemui nak-nak/remaja tidak seperti yang dihrapkan. Ternyata masyarakat kini sedang hanyut diterjang oleh gelombang modernisasi/globalisasi. Masyarakat dimana anak-nak/remaja tumbuh dlah masyarakt yang sedang sakit, malah ada yang menyebut masyarkat edan. Masyarakat yang sedang dibuai oleh oleh musik rock,dangdut dan seks bebas. Mereka menganggap dirinya modern, maju dan terbuka, tetapi hatinya tertutup terhadap nili-nilai moral dan spiritual.
Daya tarik modernisasi yang begitu kuat, sementara anak-anak/remaja gemar meniru, dan peluang yang terbuka cukup lebar, akhirnya anak dan remja pun “menelan” modernisasi yang menggiurkan mereka seperti hedonisme, materialisme,dan liberalisme. Walaupun mereka banyak tidak mengerti akan makna isme-isme tersebut. Tapi kan banyak contoh. Ya, mereka meniru orang-orang dewasa disekitarnya.

Rabu, 08 Oktober 2008

Dunia Pendidikan Kita Masih Sakit

Mengapa diantara anak-anak kita (pelajar SMU) bahkan mahsiswa masih sering terjadi tawuran ? Mengapa dari tahun ke tahun kasus narkoba terus meningkat dikalangan pelajar/mahasiswa? (Saat ini 8000 siswa SD menjadi pengguna narkoba (Republika,7 Desember 2007) Mengapa dikalangan remaja Indonesia pergaulan seks bebas terus meningkat ? ( Berdasarkan penelitian tiap hari 100 remaja melakukan aborsi; satu dari enam pelajar perempuan aktif bergaul seks bebas, paling sedikit, mereka berganti pasangan dengan empat laki-laki yang berbeda-beda ( Rakyat Merdeka, 11 Desember 2007). Mengapa anak-anak kita tidak kreatif ? Mengapa anak-anak kita tidak mampu bersaing dengan anak-anak negara tetangga Malaysia atau Singapura ? Mengapa lalu lintas kita begitu semrawut, sesama pemakai jalan tidak perduli satu sama lain ? Mengapa diantara sesama anggota keluarga sering terjadi pertengkaran, perkelahian, bahkan berakhir dengan pembunuhan.( Seorang anak berinisial MR 27, warga desa Tapus Godang, Kecamatan Aek Bilah, Kab. Tapanuli Selatan tega membunuh ayah kandungnya gara-gara kehilangan uang Rp 200.000,- (Waspada, 2 Februari 2008). Mengapa di era global ini hidup kita selalu dihiasi dengan tragedi-tragedi kemanusiaan yang memilukan ? Benarkah era globalisasi itu jahat ? “Kita yang tidak fasih dengan kinerja global akan merasakan globalisasi sebagai kutuk. Seperti gejala lain dibawah langit, globalisasi punya wajah mendua, baik dan buruk.” (B. Henry Priyono, Kompas 28 Agustus 2007).
Mengapa begitu banyak pertanyaan muncul seperti di atas ? Menurut hemat saya sebab utama karena dunia pendidikan kita sampai saat ini masih “sakit keras”. Padahal kita semua tahu bahwa pendidikan adalah kunci kemajuan suatu bangsa.
Terpuruk terus
Dalam survei tiga tahunan Programme for International Student Assasment (PISA) tahun 2003, Indonesia berada diurutan ke- 40 dari 40 negara dalam hal matematika, IPA, maupun membaca. Dalam hal membaca, hanya 31 persen siswa Indonesia yang mampu menyelesaikan dengan cukup baik sebagian besar soal yang diberikan (Kompas,10 Desember 2007).
Berdasarkan sumber yang sama, kajian Trend in International Mathematics and Science Study (TIMSS) tahun 2003 dimana Indonesia berada di urutan 34 dari 45 negara. Untuk matematika siswa-siswi Indonesia hanya mencapai skor rata-rata 411 dari kisaran (range) skor 400 dan tertinggi 625. Jauh dibawah rata-rata skor siswa-siswi Malaysia (508) dan Singapura (605). Padahal dilihat dari jam pelajaran yang diberikan , Indoneia lebih panjang.
Untuk IPA, skor rata-rata siswa Indonesia hanya 395, sementara Thailand 429, Singpura 473, Malaysia 510. Ironis, bukan ?
PISA tidak sekedar mengukur kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal yang diberikan atau mengoperasikaan teknik matematika , tetapi juga dimaksudkan untuk melihat dan membandingkan sejauh mana siswa siap menghadapi tantangan masa depan.
Di sini akan dinilai kemampuan siswa dalam memecahkan suatu masalah (problem solving) mulai dari mengenali dan menganalisa masalah, memformulasi-reasoning-nya, dan mengomunikasikan gagasan-gagasan yang dimilikinya kepada orang lain.
Dalam hal kemampuan problem solving, Indonesia diurutan ke 39 dari 40 negara. Sedangkan untuk membaca, lebih dari separuh siswa juga memiliki skor dibawah level terendah (Kompas 10 Desember 2007).
Apa yang salah ?
Mengapa begitu banyak pertanyaan di atas muncul ? Dan mungkin anda juga punya pertanyaan senada yang jumlahnya lebih banyak dari situ. Apa maknanya ? Ya, dari pertanyaan-pertanyaan tersebut kita maklum betapa carut-marutnya dunia pendidikan kita dewasa ini.
Apakah para petinggi pendidikan di negeri ini belum tahu apa yang salah? Apa-apanya, dong? Ah, masa iya? Bukankah yang ngurusin pendidikan kita banyak pakar pendidikan di negeri ini.
Perhatikanlah banyaknya kebijakan atau sejumlah regulasi yang ditetapkan pmerintah seringkali dinilai berbagai kalangan “gagal” dalam implementasinya. Lihatlah pasal 1 UU Sistem pendidikan Nasional No.20 Tahun 2003 (lima tahun lalu) yang merumuskan bahwa pendidikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya, untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Tetapi apa yng terjadi di ruang kelas? Anak-anak pada umumnya disuruh menghafal rumus-rumus, konsep atau banyak informasi tanpa ada pemahaman atau penghayatan, analisis apalagi aplikasi. Apalagi pada saat menjelang Ujian Nasional (UN). Siswa disuruh (di drill) mengerjakan soal-soal tahun-tahun sebelumnya atau disuruh mengikuti Bimbingan tes atau tim Pembimbing yang didatangkan ke sekolah. Inikan memberatkan orang tua karena pasti memerlukan biaya lagi. Padahal menurut pakar pendidikan H.A.R. Tilaar Apa yang terjadi di ruang kelas, justru adalah proses pembodohan ( Tilaar, 2004, hal.299). Jika pendapatnya ini benar alangkah meruginya orang tua yang menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah-sekolah formal. Alangkah malang nasibmu anak-anakku, arang habis besi binasa.
Bukankah fungsi pendidikan nasional untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi perserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. (UU Sisdiknas th. 2003 Bab II pasal 3)
Pernahkah anda menemukan lulusan (output) Sekolah Lanjutan Atas atau jebolan Perguruan Tinggi kita sesuai dengan tujuan pendidikan di atas ? Atau istilah populernya manusia Indonesia seutuhnya ? Dalam kenyataan justru kita banyak menemukan anak-anak tidak bermoral, tercabut dari akar budayanya. Mereka bangga mengadopsi budaya Barat, senang gaya hidup bebas, terlibat narkoba, dsb.
Kurikulum
Salah satu faktor yang menyebabkan amburadulnya pendidikan di negeri ini menurut hemat saya adalah seringnya pergantian kurikulum. Entah kapan berakhir “kebiasaan” menggunakan anak-anak kita sebagai kelinci percobaan.
Tahun 2004 Kurikulim Berbasis Kompetensi (KBK) di berlakukan untuk semua jenjang pndidikan dasar dan menengah. Dengan kurikulum ini pembelajaran berorientasi kepada kemampuan siswa dan memahami pelajaran secara kontekstual.
Dalam prakteknya KBK sebagaimana pelaksanan kurikulum sebelumnya (1994) juga mengalami berbagai kendala terutama kurangnya fasilitas belajar seperti Labaratorium IPA/Biologi dan Lab. Bahasa serta perpustakaan sekolah. Media pembelajaran lainnya untuk mendukung pelaksnaan KBK ternyata juga masih minim hampir disemua sekolah.
Walaupun demikian guru-guru banyak yang mendukung KBK karena materi yang diajarkan tidak sebanyak materi pada kurikulum 1994, dan memacu guru untuk kreatif serta membuat murid asyik belajar.
Pada waktu itu guru-guru menyambut baik KBK karena dalam KBK tidak hanya mengutamakan aspek kognitif, tetapi juga aspek afektif dan psikomotorik siswa.
Tetapi belum sampai dua tahun KBK diberlakukan, entah angin puting beliung dari arah mana berhembus, tiba-tiba KBK diganti dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Maka sejak tahun 2006 KTSP resmi diberlakukan walaupun belum ada evaluasi terhadap aplikasi kurikulum sebelumnya (KBK). Aneh, tapi nyata. Ya, bagaimana lagi, jika begitulah polical will pemerintah. Dari survey yang dilakukan ternyata belum semua guru bahkan Kepala Sekolah memahami Kurikulum Tingkat Satuan Penididikan (KTSP), karena memang belum terjangkau sosialisasi kurikulum tersebut. Banyak guru yang kewalahan dan bingung, sehingga dikalangan guru kurikulum baru itu lebih populer dengan sebutan Kurikulum Tidak Siap Pakai.
Anggaran Pendidikan
Pasal 31 UUD 1945 menetapkan 20% dari APBN untuk pendidikan. Kemudian dipertegas lagi dengan UU Sisdiknas No.20 tahun 2003 minimum 20% dari APBN atau APBD disediakan untuk anggaran pendidikan.
Namun dalam kenyatan, jauh panggang dari api. Siap peduli ? Biar saja bangsa ini dipandang sebelah mata atau tak digubris sama sekali oleh bangsa lain, atau dikendalikan oleh negara-negara lain di dunia. Padahal di negeri ini sudah lama pendidikan disebut-sebut sebagai syarat mutlak kemajuan bangsa, tetapi rupanya hanya dalam taraf orasi atau bahan diskusi di ruang seminar. Istilah populernya kita baru bisa nato (no action, talking only).
Lihatlah hingga sekarang realisasi anggaran pendidikaan masih dibawah 10 persen, yakni 8,1 persen (2005). Untuk APBN 2007, anggaran untuk pendidikan Rp90,10 triliun atau 11,8 persen dari total APBN Rp 763,6 triliun. Tahun 2006 pemerintah mengalokasikan Rp 44,1 triliun atau 9,4 persen dari total APBN termasuk untuk gaji guru
(Kompas,10 Desember 2007). Jadi masih jauh dari apa yng diamanatkan dalam UUD 1945 dan UU Sisdiknas No.20/2003. (Kompas, 10 Desember 2007)
Penutup
Paling tidak kedua faktor di atas ( seringnya pergantian kurikum dan rendahnya anggaran pendidikaan) menjadi faktor utama rendahnya kualitas pendidikan di negeri ini.
Selama pendidikan masih diabaikan, bangsa ini tidak akan mampu bersaing dengan negara tetangga apalagi dengan negara-negara yang telah maju. Sementara itu globalisasi terus bergulir dan menjungkir balikkan tatanan sosial, menggilas nilai-nilai moral anak bangsa yang semakin rapuh. Sedangkan pendididikan non-formal juga tidak mampu menanamkan nilai-nilai moral ditengah keluarga karena wibawa orang tua yang nyaris sirna.
Akhirnya kita semua berharap kepada kemauan politik pemerintah untuk membangun pendidikan negeri ini agar harkat dan martabat bangsa ini tidak dilecehkan bangsa lain.

Pendidikan Anak Usia Dini

Mungkin pernah terlintas dalam benak kita untuk bertanya, “siapakah sesungguhnya anak kita?” Pertanyaan tersebut adalah wajar, karena walaupun kita yang melahirkannya, namun banyak tingkah polahnya yang mengherankan, menakjubkan dan tidak kita pahami mengapa ia bertingkahlaku demikian.
Setiap anak adalah unik, masing-masing mempunyai kepribadian yang khas, tidak ada yang sama walaupun kembar. Dari segi biologis (sisi luar) anak kita mudah dikenal, misalnya hidungnya mancung, rambut keriting, kulit kuning langsat, dsb. Tetapi “sisi dalam” atau kepribadiannya yang juga disebut “inner self” banyak orang yang tidak tahu. Padhal tanpa pengetahuan yang jelas tentng siapa sesungguhnya anak kita, maka penyikapan, perlakuan atau pola asuh yang tepat akan sukar kita laksanakan.
Dengan pola asuh yang tepat orang tua dapat mengembangkan bakat atau potensi anak yang beraneka ragam. Anak-anak kita memiliki sejuta kemungkinan. Jika pola asuh anak di rumah tangga berlangsung dengan baik sejak dini dan selanjutnya di sekolah, bukan tidak mungkin diantara mereka kelak akan muncul ilmuwan peraih Nobel, ada yang menjadi ulama besar, politikus, sastrawan kaliber dunia dsb.
Sebaliknya, jika orang tua salah asuh anak-anak bisa menjadi preman tengik,musuh masyarakat bahkan menjadi sampah masyarakat.
Sejak dini
Pendidikan anak sebaiknya sudah dimulai sejak dalam kandungan. Pada periode ini sang ibu bisa berbicara dengan janin dalam kandungannya, memperdengarkan ayat-ayat suci (baca al Qur’an) atau memperdengarkan musik. Selanjutnya setelah anak lahir, pada usia dua hingga tiga tahun anak dapt masuk kedalam kelompok bermain. Kemudian berlanjut ke Taman Kanak-Kanak pada usia empat hingga lima tahun.
Berdasarkan pengamatan selama ini pendidikan anak usia dini di negara kita belum mendapat perhatian serius baik di rumah tangga maupun di lembaga-lembaga pendidikan formal atau nonformal.
Hal ini terbukti dari data yang diungkapkan oleh Dirjen Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda, Departemen Pendidikan Nasional, bahwa saat ini baru sekitar 28 % anak usia dini (0-6 tahun) yang terlayani pendidikannya. Jumlah itu terdiri atas 9,6 % di Bina Keluarga Balita, 1,4% di Raudhatul Athfal, 0,13% di kelompok bermain dan 0.05 % di Taman Penitipan Anak. Lainnya, 9,9 % terlayani di SD (Republika, 5 Nop.2004)
Sosialisasi
Dari data di atas memperlihatkan betapa kurangnya perhatian orang tua atau pendidik pada umumnya terhadap pentingnya pendidikan anak usia dini selama ini. Padahal hasil penelitian di bidang neurologi membuktikan bahwa perkembangan intelektul telah mencpai 50 % ketika anak berusia empat tahun, 80% setelah berusia delapan tahun dan genap 100 % setelah berusia 18 tahun. Oleh sebab itulah masa peka (teachable moment) yang juga disebut sebagai masa emas (golden age) pada anak-anak usia dini yang hanya muncul sekali seumur hidup harus mendapat pelayanan sebaik-baiknya dari orang tua.
Agar masa emas ini tidak terlewatkan begitu saja, maka sosialisasi yang intensif dan menyeluruh tentang masa peka ini harus segera dilaksanakan. Misalnya dengan menugaskan Lembaga-lembaga pendidikan setempat di setiap daerah seperti IKIP dan tokoh-tokoh pendidik lainnya (pemerhati, praktisi) untuk menjelaskan betapa pentingnya pendidikan anak usia dini termasuk cara-cara untuk melayani masa peka anak-anak sebaik-baiknya. Disamping itu guru-guru TK diberikan pendidikan tambahan sekurang-kurangnya D2 khusus tetang pendidikan anak usia dini. Untuk menopang keberhasilan pendidikan anak usia dini (paud) hendaknya para pengusaha/ dermawan ikut serta dalam membantu menyediakan alat-alat permainan yang dibutuhkan anak.
Bermain
Bermain adalah cara yang paling efektif untuk mematangkan perkembangan anak.Karena dengan bermain bayi atau anak-anak usia dini berusaha mencoba dan melatih diri. Gerak-gerak permainan itu antara lain berupa memukul-mukul, merangkak, melempar, merobek-robek kertas, meremas, duduk, berdiri, berlari,dll. Walaupun tampknya tidak bertujuan,namun memegang peranan penting dalam latihan pendahuluan Dalam suasana bermain semua fungsi-fungsi jasmani dan rohaninya seperti kebebasan, kegembiraan, harapan dan ikhtiar akan terlatih. Mereka mengembangkan aktivitas dan fantasinya.Dan kesadaran akan aku/egonya akan diperkuat. Dengn jalan bermain anak anak melakukan eksplorasi sambil mencoba kemampunnya. Dan dengan begitu ia memperoleh macam-macam pengalaman yang menyenangkan sambil menggiatkan usaha belajar.
Lies D.Karyadi, seorang psikolog dan ahli gizi yang berkecimpung dalam dunia prkembangan anak menyatakan bahwa perkembangan otak paling intensif pada tahun pertama. Dalam tahun tersebut ada 100 milyar sel otak bayi (neuron) yang saling berhubungan layaknya time accelerator untuk merespon keadan dunia luar. Pengalaman baru yang mereka peroleh akan mmperkuat sambungan yang ada.
Perangsangan harus diberikan sebanyak mungkin dan dimulai sejak dalam kandungan. Rangsangan bisa berupa mengajak bayi berbicara atau memperdengarkan musik. Dan secara bertahap setelah bayi makin besar dapat diberikan alat permainan yang cocok dan komunikasi pun mengalir dengan bahan lebih mengarah kepada keseharian dan apa yang ada di sekitar mereka.
Cinta
Cinta adalah kurnia Ilahi kepada manusia yang memungkinkan manusia hidup di dunia dengan penuh semangat, energik dan bergelora. Cinta seorang ibu kepada anaknya adalah jenis cinta yang paling tulus. Cinta orang tua memberikan dorongan yang kuat bagi anak-anaknya untuk belajar dan menjadi orang cerdas. Dan menjadikan diri meraka sebagai guru pertama dan utama dengan penuh kasih sayang. Mencintai anak berarti kita mnerimanya sebagaimana adanya, sehingga anak merasa aman dan senang mengembangkn potensinya.
Hasil penelitian para pakar menemukan bahwa ukuran otak anak yang jarang tersiram kasih sayang dan jarang diajak bermaian lebih kecil 30% daripada anak normal pada usia yang sama. (Intisari, Kumpulan artikel Psikologi Anak,1999)
Kecerdasan Majemuk (KM)
Penelitian terkini menunjukkan bahwa kecerdasan paling tidak ada delapan macam, yaitu : spasial visual: cerdas dalam menggambar atau membayangkan; linguistik-verbal: cerdas dalam berkata-kata atau berbahasa; interpersonal: cerdas dalam berinteraksi dengan sesama; musikal ritmik: cerdas dalam bernyanyi dan memainkan alat musik; naturalis:cerdas dalam berhubungn dengan alam dan isinya; badan-kinestik: cerdas dalam berolahraga atau menari; intrapersonal: cerdas dalam memahami diri atau merenung; Logis matematis: cerdas dalam berhitung.
Semua potensi dalam bentuk kecerdasan pada anak perlu dikembangkan seoptimal mungkin.
Dari penemun baru ini seungguhnya tidak ada anak yang disebut bodoh. Bisa jadi, ada anak lemah matematika, namun cerdas dalam menari atau menggambar, dsb. Jadi kecerdasan tidak hanya diukur lewat satu cara. Persoalannya sekarang, apakah orangtua memahami semua ini. Ini tantangan sekaligus hmbatan untuk mensukseskan pendidikan anak usia dini.
Tantangan
Tantangan lain yang juga cukup berat adalah era globalisasi yang sedang jaya-jayanya melanda hampir di semua lini kehidupan, termasuk pendidikan. Kini kebiasaan belajar/membaca anak-anak kita merosot tajam akibat daya tarik televisi. Begitu pula orang tua, perhatian dan keseriusan pola asuh ibu-ibu rumah tangga tergusur oleh keasyikan ibu-ibu menonton acara tv yang cukup mengasyikkan. Ironisnya lagi menurut data Bappenas, saat ini 48 % kepala keluarga di Indonesi tidak lulus SD. Sedangkan yang sampai ke jenjang akademi atau Perguruan Tinggi (S1) hanya 0,74 %. Dengan kondisi seperti ini, bagaimana mungkin melaksanakan pendidikan anak usia dini ? Jawabannya tidak lain adalah kerja keras. Karena pendidikan yang berkualitas hanya muncul dari orang-orang yang berkualitas. Dan pendidikan anak usia dini adalah pekerjaan membangun bangsa, membangun generasi baru menuju masa depan cerah

Dijajah Oleh Diri Sendiri

Apakah anda sadar bahwa selama ini anda telah dijajah oleh diri sendiri? Bahwa anda tidak mampu melawan ego, atau anda senantiasa dibelenggu oleh hawa nafsu. Tak percaya ? Lihatlah sejenak hari-hari yang telah berlalu. Anda akan terkesima, karena selama ini diri kita sendiri yang menjajah hidup kita lewat berbagai cara. Padahal kita bisa menjadi manusia merdeka. Manusia yang tahu kemana arah yang kita tuju. Kita tahu siapa kita sebenarnya dan kemana kita pada akhirnya.
Wa ana minal muslimin. Kita akui itu, dan kita ucapkan setiap hari ketika kita mendirikan shalat lima kali sehari semalam. Namun dalam kehidupan sehari-hari banyak diantara kita terlena dengan gemerlapnya dunia. Keringinanpun bertumpuk. Sudah punya mobil inova, ingin lagi mercy. Sudah menjabat bupati mau menjadi gubernur lagi. Sudah jadi gubernur ingin jadi presiden lagi, tapi tak mau berkaca. Semua mau diraihnya.
Sementara diantara orang-orang yang berada dipapan bawah, yang senantiasa dirundung malang karena pahitnya kehidupan, stres, nyaris putus asa. Lupa akan adanya pertolongan Allah.
Pada era globalisasi yang penuh dengan informasi sampah, kita terjebak pada pola pikir pengangungan ratio. Kita “diformat” untuk membiasakan berfikir memisahkan agama dengan kehidupan dunia. Kita “dipompa” untuk berpikir bahwa agama tidak mampu menjawab permasalahan dunia.
Kini, kita makin menjauh dari agama kita. Kita sepertinya kehilangan kebanggaan sebagai muslim di negeri yang mayoritas muslim. Kita terpenjara. Ibadah rutin yang biasa kita laksanakanpun, seolah terpaksa karena tidak lagi diresapi makna hakiki yang terkandung didalamnya. Lupa akan keterbatasan dan kelemahan kita. Lupa bahwa kita adalah hamba yang dhaif.
Sebagai muslim, keislaman kita bukanlah sekedar identitas yang membedakan kita dengan orang-orang non muslim. Islam adalah anugerah yang paling berharga, yang kita miliki dalam hidup ini. Bahkan Islam menjadi rakhmat bagi semua makhlukNya.
Sesunggunya ajaran Islam itu sederhana, simpel dan cocok dengan fitrah manusia. Al-Quran yang mesnjadi sumber hukumnya adalah pedomaan/petunjuk yang tidak pernah menimbulkan kesulitan, tetapi menjadi sumber solusi. Simaklah firman Allah :”Kami tidak menurunkan Al-Quran ini kepadamu (Muhammad) agar engkau menjadi susah; melainkan sebagai peringatan bagi orang-orang yang takut (kepada Allah)” (Q.S.Thaha:2-3)
Kita patut bersyukur karena dengan agama yang kita anut itu, pasti membimbing kita menempuh jalan lurus. Dan kita berhasil menempuh kehidupan yang penuh liku-liku serta godaan. Kita sukses dan pasti merasa bahagia

Lengkapi Buku Pustaka SD

Berbicara tentang minat baca siswa SD, mau tak mau semua sekolah SD di negeri ini harus secepatnya melengkapi buku-buku perpustakaan SD denganbuku-buku yang relevan dengan siswa usia sekolah dasar (sekitar 7 s/d 13 tahun). Jika tidakomong kosong minat baca siswa dapat berkmbang sebagaimana yang kita harapkan selama ini.