Sabtu, 11 Oktober 2008

Pendidikan Karakter

Bangsa ini sepertinya tak putus dirundung malang. Indonesia yang sudah 62 tahun merdeka masih saja menghadapi ujian berat yang harus dilalui, yaitu terjadinya krisis multi dimensi yang berkepanjangan. Negeri yang berpenduduk lebih 200 juta ini masih kelihatan suram untuk bangkit dari keterpurukan ekonomi. Sehingga banyak orang mempertanyakan, benarkah kita sudah merdeka?
Krisis yang terjadi pada hampir di semua lini kehidupan ini hemat saya mengakar pada demoralisasi dan despiritualisasi bangsa. Lihatlah meningkatnya kriminalitas di sekitar kita, penculikan, perampokan, pembunuhan dan perkosaan, yang dilakukan oleh orang-orang dewasa dan bahkan remaja yang masih berstatus pelajar. Ironis bukan. Sementara itu korupsi pun jalan terus, tak pernah jera menguras harta Negara.Bukankah sebuah bangsa akan hancur apabila terjadi demoralisasi pada masyarakatnya. Banyak pakar dan filosuf mengatakan bahwa faktor moral/akhlak adalah faktor utama untuk membangun sebuah bangsa yang tertib,aman dan sejahtera.
“Semua masyarakat, tentu saja, harus melakukan sesuatu yang lebih dari sekedar untuk bertahan. Mereka juga harus tumbuh dalam memahami apa artinya menjadi sebuah komunitas manusia, dalam memberikaan kesempatan kepada setiap anggotanya untuk tumbuh secara utuh, dan dalam kapasitasnya untuk menangani problema etika yang timbul dari perubahan teknologi dan sosial lainnya. Lagi pula, mereka harus belajar untuk berfungsi sebagai bagian dari komunitas dunia yang kompleks, di mana untuk terwujudnya perdamaian dunia dan keadilan membutuhkan suatu hubungan kerjasama yang kuat. Tetapi apapun tugasnya; untuk bertahan atau tumbuh kembang setiap masyarakat, mau tidak mau bergantung kepada keberhasilannya dalam membentuk kualitas karakter masyarakatnya.”(Kevein Ryan & Thomas Lickona, dalam Ratna Megawangi, Pendidikan Karakter, 2004)
Dari kutipan di atas tampak bahwa sejatinya setiap warga negara harus dapat tumbuh kembang sesuai dengan potensi yang dimilikinya serta sadar sebagai warga negara (Indonesia) dan harus mampu menangani masalah-maslah moral yang muncul sebagai akibat terjadinya perubahan sosial/modernisasi dan selanjutnya harus belajar bekerjasama dan berbuat seuatu yang bermanfaat bagi sesama sebagai warga dunia. Dan untuk mencapai perdamaian dunia dan keadilan sangat tergantung kepada pembentukan karakter masyarakatnya.
Pengembangan potensi setiap orang dan pembentukan karakter, tidak lain harus melalui pendidikan baik formal maupun non-formal. Oleh sebab itu kewajiban utama orang tua adalah menanamkan nilai-nilai moral kepada anak-anaknya sejak dini. Nilai-nilai moral tersebut akan membentuk karakter yang akan menjadi fondasi bagi tatanan masyarakat yang beradab.
Hubungan antra aspek moral dengan kemajuan bangsa juga dikemukan oleh Thomas Lickona seorang professor pendidikan dari Cortland University mengungkapkn bahwa ada sepuluh tanda-tanda jaman yng harus diwaspadai karena jika tanda-tanda ini sudah ada, maka itu berarti bahwa sebuah bangsa sudah menuju jurang kehancuran. Tanda-tanda dimaksud adalah : (1)meningkatnya kekerasan dikalangan remaja, (2) penggunaan bahasa dan kata-kata yang memburuk, (3) pengaruh peer group yang kuat dalam tindak kekerasan, (4) meningkatnya perilaku merusak diri, seperti penggunaan narkoba, alkohol dan seks bebas, (5) semakin kaburnya pedoman moral baik dan buruk, (6) menurunnya etos kerja, semakin rendahnya rasa hormat kepada orang tua dan guru, (8) rendahnya rasa tanggung jawab individu dan warga negara, (9) membudayanya ketidak jujuran, dan (10) adanya rasa saling curiga dan kebencian diantara sesama (ibid,hlm.8).
Jika kita mencermati fenomena yang terjadi dalam masyarakat dewasa ini tampaknya tanda-tanda tersebut sudah semakin menggejala dinegeri ini.


Karakter

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, (hlm.189) karakter dimaknai sebagai sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain; watak, kepribadian. Orang yang berkarater biasanya dapat membedakan hal yang baik dan yang buruk dengan tegas. “Dia punya karakter”, demikian kata orang dan konotasi ungkapan itu tentu saja adalah positif.
Orang yag punya karakter atau kepribadian yang mantap biasanya dihormati dan disegani orang lain, karena dia melihat dan memandang setiap kejadian dalam kehidupan ini dengan kaca mata yang penuh dengan keindahan dan optimisme. Sedangkan orang yang tidak punya karakter melihat lingkungannya/dunia atau orang lain melalui kaca mata hitam, dia cendrung melihat kekurangan atau segi negatifnya. Sehingga yang muncul bukan persaudaraan atau menimbulkan kerjasama melainkan permusuhan atau agresi.
Orang yang berkarkter juga ditandai dengan adanya konsisteni antara apa yang diucapkan dengan apa yang diperbuatnya. Kebiasaan (habit) seseorang pada gilirannya juga kan membentuk kakarater seseorang. Dan biasanya orang yang berkepribdian mantap atau akhlak mulia cendrung memiliki sifat low-profile.

Mulai dari rumah tangga
Kembali kepada pendidikan karakter atau watak, pribadi. Sesungguhnya anak tidak dilahirkan jahat, bodoh, jelek atau agresif. Jadi kalau begitu orang tualah yang membuat anak jahat, nakal, tau bodoh. Bisa ya, bisa tidak. Karena orang tua adalah guru pertama dan utama bagi setiap anak. Tergantung kepda pola asuh orng tua. Pola asuh orang tua akan memberikan kesan yang sangat berpengaruh untuk membentuk karakter atau kepribadian anak ketika ia dewasa kelak. Pola asuh orang tua atau cara mendidik anak akan tercermin dalam cara anak menyikapi orang tuanya. Dengan kata lain bila orang tua mendidik anak dengan penuh kasih sayang maka anak juga akan menyayangi orang tuanya dan orang lain. Dalam hatinya tumbuh rasa cinta. Sebaliknya bila orang tua mengasuh anak dengan kasar/otoriter dan cemoohan, maka dalam dirinya akan tumbuh permusuhan, dia merasa rendah diri dan tidak percaya diri dan ingin melawan/berkelahi. Misalnya orang tua yang sering mengucapkan kata-kata kasar saat anaknya melakukan kesalahan, seperti kata tolol, nakal, malas, bego dsb. Kata-kata tersebut akan menjadi memori sepanjang hidupnya.
Rumah sejatinya adalh tempat mnyamaikan nilai-nilai yang bersumber dari ajaran agama dan budaya, seperti kejujuran, kasih sayang, persahabatan, saling menghargai dan menghormati, kerjasama, kesabaran, toleransi dsb. Bila nilai-nilai tersebut telah tertanam dalam hati sanubari anak, maka dia akan memiliki karakter yang baik dan sukses dalam mengharungi kehidupannya kelak.

Pencerahan di sekolah
Sekolah seharusnya mendidik anak untuk mengenal diri sendiri, menyadari siapa dirinya, sadar akan potensinya, dan sadar akan keunggulan dan kelemahannya. Selain dari pada itu anak-anak juga harus msmahami orang lain disekitanya, ia memerlukaan kerjasama dengan mereka karena sesungguhnya ia tidak bisa hidup sendiri di dunia ini. Oleh sebab itulah pendidikan bukan hanya meningkatkan kecerdasan otak, tetapi sekaligus juga kecerdasan emosional dan spiritual , sehingga tumbuh manusia-manusia yang cerdas intektual, emosional dan spiritual dengan demikian akan tumbuh manusia yang punya karakter/watak.
Meskipun pentingnya kecerdasan emosional dan spiritual sudah mulai disadari, namun dalam proses pendidikan kita masih mengutamakan keunggulan kognitif atau intelektual. Sehingga dinegeri ini tumbuh banyak orang-orang berpendidikan tapi gagal dalam hidup karena tidak mampu mengendalikan diri.
Tampaknya guru-guru di sekolah tidak cukup sabar untuk mengembangkan emosi dan kemampuan peserta didik memahami orang lain. Dengan kata lain pendidikan nilai, kepribadian atau watak atau afektif kurang diperhatikan atau malah tidak dikembangkan di sekolah-sekolah kita. Artinya tujuan pendidikan nasional, yaitu membentuk manusia Indonesia seutuhnya yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, cerdas, trampil, berbudi pekerti luhur, mandiri dst masih diabaikan atau dicuekin. Akibatnya anak-anak suka tawuran /berkelahi (malah bangga jika bisa melukai lawannya, sering bolos, candu narkoba, suka nonton film porno, tidak santun kepada orng tua ataupun guru dsb.
Akhirnya banyak orang yang mencap pendidikan kita carut marut atau amburadul.

Bagaimana di masyarakat
Idealnya rumah tangga, sekolah dan masyarakat harus kerjasama dalam membimbing serta membina anak-anak kearah yang lebih baik, yaitu tumbuh sebagai manusia dewasa, mengerti dirinya sendiri dan orang lain, serta mampu memechkan persoalan yang dihadapi.
Tetapi dlam knyataan, kondisi masyrakt yang ditemui nak-nak/remaja tidak seperti yang dihrapkan. Ternyata masyarakat kini sedang hanyut diterjang oleh gelombang modernisasi/globalisasi. Masyarakat dimana anak-nak/remaja tumbuh dlah masyarakt yang sedang sakit, malah ada yang menyebut masyarkat edan. Masyarakat yang sedang dibuai oleh oleh musik rock,dangdut dan seks bebas. Mereka menganggap dirinya modern, maju dan terbuka, tetapi hatinya tertutup terhadap nili-nilai moral dan spiritual.
Daya tarik modernisasi yang begitu kuat, sementara anak-anak/remaja gemar meniru, dan peluang yang terbuka cukup lebar, akhirnya anak dan remja pun “menelan” modernisasi yang menggiurkan mereka seperti hedonisme, materialisme,dan liberalisme. Walaupun mereka banyak tidak mengerti akan makna isme-isme tersebut. Tapi kan banyak contoh. Ya, mereka meniru orang-orang dewasa disekitarnya.

Tidak ada komentar: