Mungkin pernah terlintas dalam benak kita untuk bertanya, “siapakah sesungguhnya anak kita?” Pertanyaan tersebut adalah wajar, karena walaupun kita yang melahirkannya, namun banyak tingkah polahnya yang mengherankan, menakjubkan dan tidak kita pahami mengapa ia bertingkahlaku demikian.
Setiap anak adalah unik, masing-masing mempunyai kepribadian yang khas, tidak ada yang sama walaupun kembar. Dari segi biologis (sisi luar) anak kita mudah dikenal, misalnya hidungnya mancung, rambut keriting, kulit kuning langsat, dsb. Tetapi “sisi dalam” atau kepribadiannya yang juga disebut “inner self” banyak orang yang tidak tahu. Padhal tanpa pengetahuan yang jelas tentng siapa sesungguhnya anak kita, maka penyikapan, perlakuan atau pola asuh yang tepat akan sukar kita laksanakan.
Dengan pola asuh yang tepat orang tua dapat mengembangkan bakat atau potensi anak yang beraneka ragam. Anak-anak kita memiliki sejuta kemungkinan. Jika pola asuh anak di rumah tangga berlangsung dengan baik sejak dini dan selanjutnya di sekolah, bukan tidak mungkin diantara mereka kelak akan muncul ilmuwan peraih Nobel, ada yang menjadi ulama besar, politikus, sastrawan kaliber dunia dsb.
Sebaliknya, jika orang tua salah asuh anak-anak bisa menjadi preman tengik,musuh masyarakat bahkan menjadi sampah masyarakat.
Sejak dini
Pendidikan anak sebaiknya sudah dimulai sejak dalam kandungan. Pada periode ini sang ibu bisa berbicara dengan janin dalam kandungannya, memperdengarkan ayat-ayat suci (baca al Qur’an) atau memperdengarkan musik. Selanjutnya setelah anak lahir, pada usia dua hingga tiga tahun anak dapt masuk kedalam kelompok bermain. Kemudian berlanjut ke Taman Kanak-Kanak pada usia empat hingga lima tahun.
Berdasarkan pengamatan selama ini pendidikan anak usia dini di negara kita belum mendapat perhatian serius baik di rumah tangga maupun di lembaga-lembaga pendidikan formal atau nonformal.
Hal ini terbukti dari data yang diungkapkan oleh Dirjen Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda, Departemen Pendidikan Nasional, bahwa saat ini baru sekitar 28 % anak usia dini (0-6 tahun) yang terlayani pendidikannya. Jumlah itu terdiri atas 9,6 % di Bina Keluarga Balita, 1,4% di Raudhatul Athfal, 0,13% di kelompok bermain dan 0.05 % di Taman Penitipan Anak. Lainnya, 9,9 % terlayani di SD (Republika, 5 Nop.2004)
Sosialisasi
Dari data di atas memperlihatkan betapa kurangnya perhatian orang tua atau pendidik pada umumnya terhadap pentingnya pendidikan anak usia dini selama ini. Padahal hasil penelitian di bidang neurologi membuktikan bahwa perkembangan intelektul telah mencpai 50 % ketika anak berusia empat tahun, 80% setelah berusia delapan tahun dan genap 100 % setelah berusia 18 tahun. Oleh sebab itulah masa peka (teachable moment) yang juga disebut sebagai masa emas (golden age) pada anak-anak usia dini yang hanya muncul sekali seumur hidup harus mendapat pelayanan sebaik-baiknya dari orang tua.
Agar masa emas ini tidak terlewatkan begitu saja, maka sosialisasi yang intensif dan menyeluruh tentang masa peka ini harus segera dilaksanakan. Misalnya dengan menugaskan Lembaga-lembaga pendidikan setempat di setiap daerah seperti IKIP dan tokoh-tokoh pendidik lainnya (pemerhati, praktisi) untuk menjelaskan betapa pentingnya pendidikan anak usia dini termasuk cara-cara untuk melayani masa peka anak-anak sebaik-baiknya. Disamping itu guru-guru TK diberikan pendidikan tambahan sekurang-kurangnya D2 khusus tetang pendidikan anak usia dini. Untuk menopang keberhasilan pendidikan anak usia dini (paud) hendaknya para pengusaha/ dermawan ikut serta dalam membantu menyediakan alat-alat permainan yang dibutuhkan anak.
Bermain
Bermain adalah cara yang paling efektif untuk mematangkan perkembangan anak.Karena dengan bermain bayi atau anak-anak usia dini berusaha mencoba dan melatih diri. Gerak-gerak permainan itu antara lain berupa memukul-mukul, merangkak, melempar, merobek-robek kertas, meremas, duduk, berdiri, berlari,dll. Walaupun tampknya tidak bertujuan,namun memegang peranan penting dalam latihan pendahuluan Dalam suasana bermain semua fungsi-fungsi jasmani dan rohaninya seperti kebebasan, kegembiraan, harapan dan ikhtiar akan terlatih. Mereka mengembangkan aktivitas dan fantasinya.Dan kesadaran akan aku/egonya akan diperkuat. Dengn jalan bermain anak anak melakukan eksplorasi sambil mencoba kemampunnya. Dan dengan begitu ia memperoleh macam-macam pengalaman yang menyenangkan sambil menggiatkan usaha belajar.
Lies D.Karyadi, seorang psikolog dan ahli gizi yang berkecimpung dalam dunia prkembangan anak menyatakan bahwa perkembangan otak paling intensif pada tahun pertama. Dalam tahun tersebut ada 100 milyar sel otak bayi (neuron) yang saling berhubungan layaknya time accelerator untuk merespon keadan dunia luar. Pengalaman baru yang mereka peroleh akan mmperkuat sambungan yang ada.
Perangsangan harus diberikan sebanyak mungkin dan dimulai sejak dalam kandungan. Rangsangan bisa berupa mengajak bayi berbicara atau memperdengarkan musik. Dan secara bertahap setelah bayi makin besar dapat diberikan alat permainan yang cocok dan komunikasi pun mengalir dengan bahan lebih mengarah kepada keseharian dan apa yang ada di sekitar mereka.
Cinta
Cinta adalah kurnia Ilahi kepada manusia yang memungkinkan manusia hidup di dunia dengan penuh semangat, energik dan bergelora. Cinta seorang ibu kepada anaknya adalah jenis cinta yang paling tulus. Cinta orang tua memberikan dorongan yang kuat bagi anak-anaknya untuk belajar dan menjadi orang cerdas. Dan menjadikan diri meraka sebagai guru pertama dan utama dengan penuh kasih sayang. Mencintai anak berarti kita mnerimanya sebagaimana adanya, sehingga anak merasa aman dan senang mengembangkn potensinya.
Hasil penelitian para pakar menemukan bahwa ukuran otak anak yang jarang tersiram kasih sayang dan jarang diajak bermaian lebih kecil 30% daripada anak normal pada usia yang sama. (Intisari, Kumpulan artikel Psikologi Anak,1999)
Kecerdasan Majemuk (KM)
Penelitian terkini menunjukkan bahwa kecerdasan paling tidak ada delapan macam, yaitu : spasial visual: cerdas dalam menggambar atau membayangkan; linguistik-verbal: cerdas dalam berkata-kata atau berbahasa; interpersonal: cerdas dalam berinteraksi dengan sesama; musikal ritmik: cerdas dalam bernyanyi dan memainkan alat musik; naturalis:cerdas dalam berhubungn dengan alam dan isinya; badan-kinestik: cerdas dalam berolahraga atau menari; intrapersonal: cerdas dalam memahami diri atau merenung; Logis matematis: cerdas dalam berhitung.
Semua potensi dalam bentuk kecerdasan pada anak perlu dikembangkan seoptimal mungkin.
Dari penemun baru ini seungguhnya tidak ada anak yang disebut bodoh. Bisa jadi, ada anak lemah matematika, namun cerdas dalam menari atau menggambar, dsb. Jadi kecerdasan tidak hanya diukur lewat satu cara. Persoalannya sekarang, apakah orangtua memahami semua ini. Ini tantangan sekaligus hmbatan untuk mensukseskan pendidikan anak usia dini.
Tantangan
Tantangan lain yang juga cukup berat adalah era globalisasi yang sedang jaya-jayanya melanda hampir di semua lini kehidupan, termasuk pendidikan. Kini kebiasaan belajar/membaca anak-anak kita merosot tajam akibat daya tarik televisi. Begitu pula orang tua, perhatian dan keseriusan pola asuh ibu-ibu rumah tangga tergusur oleh keasyikan ibu-ibu menonton acara tv yang cukup mengasyikkan. Ironisnya lagi menurut data Bappenas, saat ini 48 % kepala keluarga di Indonesi tidak lulus SD. Sedangkan yang sampai ke jenjang akademi atau Perguruan Tinggi (S1) hanya 0,74 %. Dengan kondisi seperti ini, bagaimana mungkin melaksanakan pendidikan anak usia dini ? Jawabannya tidak lain adalah kerja keras. Karena pendidikan yang berkualitas hanya muncul dari orang-orang yang berkualitas. Dan pendidikan anak usia dini adalah pekerjaan membangun bangsa, membangun generasi baru menuju masa depan cerah
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar