Apakah anda sadar bahwa selama ini anda telah dijajah oleh diri sendiri? Bahwa anda tidak mampu melawan ego, atau anda senantiasa dibelenggu oleh hawa nafsu. Tak percaya ? Lihatlah sejenak hari-hari yang telah berlalu. Anda akan terkesima, karena selama ini diri kita sendiri yang menjajah hidup kita lewat berbagai cara. Padahal kita bisa menjadi manusia merdeka. Manusia yang tahu kemana arah yang kita tuju. Kita tahu siapa kita sebenarnya dan kemana kita pada akhirnya.
Wa ana minal muslimin. Kita akui itu, dan kita ucapkan setiap hari ketika kita mendirikan shalat lima kali sehari semalam. Namun dalam kehidupan sehari-hari banyak diantara kita terlena dengan gemerlapnya dunia. Keringinanpun bertumpuk. Sudah punya mobil inova, ingin lagi mercy. Sudah menjabat bupati mau menjadi gubernur lagi. Sudah jadi gubernur ingin jadi presiden lagi, tapi tak mau berkaca. Semua mau diraihnya.
Sementara diantara orang-orang yang berada dipapan bawah, yang senantiasa dirundung malang karena pahitnya kehidupan, stres, nyaris putus asa. Lupa akan adanya pertolongan Allah.
Pada era globalisasi yang penuh dengan informasi sampah, kita terjebak pada pola pikir pengangungan ratio. Kita “diformat” untuk membiasakan berfikir memisahkan agama dengan kehidupan dunia. Kita “dipompa” untuk berpikir bahwa agama tidak mampu menjawab permasalahan dunia.
Kini, kita makin menjauh dari agama kita. Kita sepertinya kehilangan kebanggaan sebagai muslim di negeri yang mayoritas muslim. Kita terpenjara. Ibadah rutin yang biasa kita laksanakanpun, seolah terpaksa karena tidak lagi diresapi makna hakiki yang terkandung didalamnya. Lupa akan keterbatasan dan kelemahan kita. Lupa bahwa kita adalah hamba yang dhaif.
Sebagai muslim, keislaman kita bukanlah sekedar identitas yang membedakan kita dengan orang-orang non muslim. Islam adalah anugerah yang paling berharga, yang kita miliki dalam hidup ini. Bahkan Islam menjadi rakhmat bagi semua makhlukNya.
Sesunggunya ajaran Islam itu sederhana, simpel dan cocok dengan fitrah manusia. Al-Quran yang mesnjadi sumber hukumnya adalah pedomaan/petunjuk yang tidak pernah menimbulkan kesulitan, tetapi menjadi sumber solusi. Simaklah firman Allah :”Kami tidak menurunkan Al-Quran ini kepadamu (Muhammad) agar engkau menjadi susah; melainkan sebagai peringatan bagi orang-orang yang takut (kepada Allah)” (Q.S.Thaha:2-3)
Kita patut bersyukur karena dengan agama yang kita anut itu, pasti membimbing kita menempuh jalan lurus. Dan kita berhasil menempuh kehidupan yang penuh liku-liku serta godaan. Kita sukses dan pasti merasa bahagia
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar